Sudah Patuh PSAK 71, Kenapa Masih Repot? 5 Penyebab yang Sering Terlewat
Apa masalah IFRS 9 yang paling sering terlewat? Kebanyakan orang mengira masalahnya ada di data atau rumus hitungnya. Padahal yang sering bikin repot justru hal-hal di sekitarnya: angka tim Risk dan Finance yang tidak cocok, hasil hitungan yang tidak selaras dengan laporan lain, catatan tambahan tanpa aturan main, proses yang hanya dipahami satu orang, dan sistem yang dianggap “beres” setelah diluncurkan.
Singkatnya, IFRS 9 (di Indonesia disebut PSAK 71) adalah aturan yang meminta bank menyisihkan dana cadangan sejak dini untuk kredit yang mungkin bermasalah di masa depan, bukan menunggu sampai kredit itu benar-benar macet. Aturan ini berlaku efektif sejak 1 Januari 2020. Sebagian besar bank sudah melewati masa penyesuaian awal, tetapi setelah sistem berjalan, tantangannya berubah. Pertanyaannya bukan lagi “bagaimana cara menghitungnya”, melainkan “bagaimana menjaga hasilnya tetap konsisten, bisa dijelaskan, dan tidak bergantung pada satu-dua orang”. Berikut lima masalah yang sering baru terasa saat tutup buku atau saat diaudit.
1. Angka Tim Risk dan Tim Finance Tidak Sama
Bayangkan dua orang mencatat pengeluaran rumah tangga di buku yang berbeda, lalu angkanya selisih sedikit. Sepele? Coba bayangkan selisih itu harus dicari sumbernya di antara jutaan transaksi, dan waktunya mepet.
Begitulah yang terjadi di bank. Tim Risk menghitung dana cadangan, sedangkan tim Finance mencatatnya di pembukuan. Selisih kecil bisa muncul karena batas waktu data yang berbeda atau ada langkah manual di tengah jalan. Yang menyita waktu bukan selisihnya, tetapi mencari tahu asal-usulnya, sering tepat saat tenggat tutup buku.
Pertanyaan untuk dicek: apakah Risk dan Finance memakai satu sumber data yang sama, dengan jejak yang jelas dari data awal sampai pencatatan?
2. Hasil Hitungan Tidak Selaras dengan Laporan Lain
Selain IFRS 9, bank juga rutin menghitung ketahanan menghadapi krisis (stress testing) dan kecukupan modal (Basel). Kalau tiap perhitungan memakai asumsi berbeda, hasilnya bisa saling bertentangan. Saat manajemen atau regulator bertanya, “Kenapa cadangan di sini tidak nyambung dengan proyeksi modal di sana?”, tim harus menjelaskan sesuatu yang sebenarnya berasal dari cara hitung yang tidak seragam.
Pertanyaan untuk dicek: apakah asumsi ekonomi dan pengelompokan portofolio dikelola di satu tempat, lalu dipakai bersama oleh semua perhitungan?
3. Penyesuaian Manual Tanpa Aturan Main
Kadang hasil dari model perlu “dikoreksi” karena kondisi berubah cepat, misalnya ada sektor usaha yang tiba-tiba melemah. Koreksi ini disebut management overlay, atau gampangnya catatan tambahan di luar hitungan model.
Catatan tambahan itu wajar. Yang berbahaya adalah kalau dibuat di spreadsheet tanpa jelas siapa yang mengusulkan, siapa yang menyetujui, dan apa alasannya. Auditor pasti akan bertanya.
Pertanyaan untuk dicek: apakah setiap penyesuaian punya alasan tertulis, pemilik, persetujuan, dan riwayat perubahan?
4. Prosesnya Hanya Dipahami Satu Orang
Ini seperti resep rahasia yang hanya ada di kepala satu koki. Selama koki itu ada, dapur berjalan lancar. Begitu ia cuti atau pindah, tidak ada yang tahu cara memasaknya.
Di banyak bank, logika perhitungan atau spreadsheet penting memang hanya dikuasai satu atau dua orang. Risikonya jarang masuk daftar risiko resmi, tetapi dampaknya langsung terasa saat proses tutup buku.
Pertanyaan untuk dicek: kalau orang kunci tidak masuk besok, apakah tim lain bisa menjalankan dan menjelaskan prosesnya?
5. Dianggap Selesai Setelah Diluncurkan
Sistem IFRS 9 sering diperlakukan seperti proyek dengan garis finis. Padahal mirip mobil: perlu diservis berkala. Kondisi ekonomi dan profil nasabah terus berubah, jadi model harus dipantau, disesuaikan, dan divalidasi ulang secara rutin. Kalau tidak, hasilnya perlahan menyimpang dari kenyataan, dan baru ketahuan ketika selisihnya sudah besar.
Pertanyaan untuk dicek: adakah jadwal dan cara kerja yang baku untuk memantau dan memperbarui model?
Ringkasan
| Masalah | Akibatnya | Pertanyaan kunci |
|---|---|---|
| Angka Risk dan Finance beda | Waktu tutup buku habis untuk cari selisih | Sudah pakai satu sumber data bersama? |
| Hasil tidak selaras dengan laporan lain | Sulit dijelaskan ke manajemen dan regulator | Asumsi dikelola di satu tempat? |
| Penyesuaian manual tanpa aturan | Mudah dipertanyakan auditor | Ada persetujuan dan catatan tiap koreksi? |
| Proses hanya dipahami satu orang | Risiko saat orang kunci berganti | Bisa dijalankan tim lain? |
| Dianggap selesai setelah diluncurkan | Model makin jauh dari kondisi nyata | Ada jadwal pemantauan rutin? |
Bagaimana Teknologi Membantu
Solusi modern menyatukan data, model, skenario ekonomi, dan alur kerja dalam satu tempat. Contohnya SAS: solusinya punya mesin alur kerja bawaan untuk menentukan tugas, jadwal, dan jalur persetujuan, serta pengelolaan skenario yang terpusat. Aturan kualitas datanya juga sudah dipetakan ke prinsip BCBS239, dan model bisa dipindahkan dari tahap pengembangan ke produksi dengan versi lamanya diarsipkan. Pengelolaan lewat menu juga menyederhanakan perawatan model dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu orang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu PSAK 71?
PSAK 71 adalah standar akuntansi Indonesia yang mengadopsi IFRS 9. Intinya, bank harus menyisihkan dana cadangan lebih awal untuk kredit yang berpotensi bermasalah. Standar ini berlaku efektif sejak 1 Januari 2020.
Apa maksud Stage 1, 2, dan 3?
Ini adalah tiga “tingkat kesehatan” kredit. Stage 1 berarti kredit sehat, cadangan dihitung untuk 12 bulan ke depan. Stage 2 berarti risikonya meningkat signifikan, cadangan dihitung untuk seluruh umur kredit. Stage 3 berarti kredit sudah bermasalah atau gagal bayar.
Kenapa angka Risk dan Finance sering tidak cocok?
Karena keduanya memakai sistem, definisi, dan jadwal yang berbeda. Tanpa alur data yang terpadu, selisih kecil harus ditelusuri secara manual.
Ingin Berdiskusi?
Mitra Mandiri Informatika mendampingi lembaga keuangan di Indonesia dalam Enterprise Risk & Integrated Balance Sheet Management (IBSM), termasuk IFRS 9. Hubungi tim kami lewat WhatsApp untuk berdiskusi tentang kebutuhan Anda.
