Ketika Fraud Menyerang dalam Hitungan Detik, Bank Harus Lebih Cepat

Belajar dari transformasi deteksi fraud Techcombank, dan relevansinya bagi keamanan digital banking di Indonesia

Setiap kali nasabah melakukan transaksi digital, ada jendela waktu yang sangat sempit bagi bank untuk memutuskan: transaksi ini sah, atau ini upaya penipuan? Semakin lambat keputusan itu diambil, semakin besar peluang kerugian terjadi, dan semakin besar pula risiko kepercayaan nasabah tergerus.

Tantangan inilah yang mendorong Vietnam Technological and Commercial Joint Stock Bank (Techcombank), salah satu bank swasta terbesar di Vietnam, untuk merombak total pendekatan mereka terhadap deteksi fraud. Transformasi mereka menjadi contoh nyata bagaimana kecepatan dan ketepatan dalam mengolah data transaksi bisa menjadi pembeda utama di industri perbankan digital, sebuah pelajaran yang relevan bagi lembaga jasa keuangan di Indonesia yang tengah mempercepat transformasi digitalnya.

Fraud Digital, Ancaman yang Tumbuh Bersama Transformasi

Berdasarkan survei dari Vietnam Information Security Association, lebih dari separuh serangan fraud yang berasal dari kanal digital di Vietnam menyasar bank dan institusi keuangan. Techcombank, yang berdiri sejak 1993 dan kini melayani 13,8 juta nasabah ritel dan korporat melalui lebih dari 300 cabang serta platform digital banking dan aplikasi mobile, menyadari bahwa dorongan besar mereka menuju layanan digital juga berarti memperluas permukaan yang bisa dieksploitasi pelaku fraud.

Alih-alih menunggu masalah muncul lebih dulu, seperti yang biasa dilakukan banyak bank, Techcombank memilih bergerak lebih awal. Kondisi ini akan terasa familiar bagi banyak bank di Indonesia, di mana pertumbuhan transaksi digital yang pesat sering kali tidak dibarengi dengan kecepatan sistem deteksi fraud yang sepadan.

Membangun Sistem Pemantauan Data yang Proaktif

Sebagai bagian dari perjalanan transformasi digitalnya, Techcombank membangun sistem pemantauan data proaktif yang ditenagai solusi enterprise fraud dari SAS. Sistem ini memungkinkan tim analitik Techcombank memberi skor pada setiap transaksi secara real-time, mendeteksi anomali perilaku nasabah begitu transaksi diproses, bukan setelah kerugian terjadi.

Pendekatan ini memberi Techcombank beberapa keunggulan operasional utama:

  • Pemantauan dari satu platform tunggal, mendukung berbagai produk, kanal, dan lini bisnis sepanjang siklus hidup nasabah, sehingga tim investigasi memiliki satu tampilan menyeluruh atas nasabah dan transaksinya.
  • Kredibilitas alert yang lebih tinggi, kemampuan melihat entitas melalui jaringan relasi membuat investigator bisa fokus pada alert yang paling kredibel, sementara mekanisme hibernasi otomatis pada alert mengurangi kelelahan tim investigasi akibat terlalu banyak false positive.

Hasil yang Signifikan

Hasilnya signifikan: waktu yang dibutuhkan Techcombank untuk mendeteksi fraud dipangkas dari proses yang lambat menjadi hitungan detik. Joseph Vu, Director of Technology and Digital Risk Management di Techcombank, menyebutkan bahwa fitur transaction scoring untuk pengambilan keputusan real-time memberi dampak besar terhadap efisiensi operasional mereka, sekaligus menurunkan tingkat false positive yang selama ini membebani tim investigasi.

Transformasi ini turut mendukung pengakuan yang diterima Techcombank sebagai Best Domestic Bank in Vietnam 2024 dari FinanceAsia dan Bank No. 1 di Vietnam versi Forbes World’s Best Banks 2024.

Pelajaran bagi Industri Perbankan Indonesia

Kisah Techcombank menegaskan pola yang sama dengan yang dihadapi banyak bank di kawasan Asia: pertumbuhan transaksi digital yang pesat memperbesar risiko fraud, sementara sistem deteksi yang reaktif dan tersebar di berbagai platform justru memperlambat respons di saat yang paling krusial. Bank yang mampu bergerak proaktif, seperti Techcombank, membuktikan bahwa kecepatan deteksi bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal menjaga kepercayaan nasabah di setiap transaksi.

Sebagai mitra strategis SAS di Indonesia, MMI memahami bahwa membangun sistem deteksi fraud real-time membutuhkan lebih dari sekadar implementasi teknologi. Dibutuhkan pendekatan end-to-end, mulai dari desain arsitektur data, migrasi ke platform analitik yang tepat, hingga pendampingan pasca-implementasi yang disesuaikan dengan konteks regulasi dan kebutuhan lokal.

Bagi bank di Indonesia yang masih mengandalkan sistem deteksi fraud yang terfragmentasi atau reaktif, kisah Techcombank menjadi pengingat bahwa kecepatan dalam mengubah data transaksi menjadi keputusan kini menjadi pembeda utama antara bank yang unggul dan yang tertinggal.


Ingin mendiskusikan bagaimana solusi fraud management dari SAS dapat diterapkan untuk kebutuhan deteksi fraud di institusi Anda? Hubungi tim MMI untuk konsultasi lebih lanjut.

Sumber: Revolutionizing fraud detection at Techcombank | SAS